Selama beberapa bulan belakangan ini, persepakbolaan tanah air mengalami kebobrokan paska keputusan FIFA untuk membekukan PSSI sampai waktu yang tidak ditentukan. Alasan utama FIFA atas keputusan ini adalah karena kisruh internal yang terjadi antara Kemenpora dengan PSSI, yang menjadi "panas" satu sama lain paska keputusan Kemenpora membekukan PSSI karena dianggap tidak memenuhi prosedur. Kisruh demikian bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia, beberapa tahun yang lalu pun negara kita pernah dihantam kisruh sepakbola serupa ketika PSSI mengalami perpecahan sehingga terjadi dualisme badan sepakbola di Indonesia. Kasus-kasus demikian membuktikan bahwa persepakbolaan tanah air sudah "mati" oleh karena sikap pemerintah dan badan sepakbola tanah air yang perlahan-lahan membunuh olahraga paling populer di Indonesia ini.
Pembekuan PSSI yang melumpuhkan aktivitas sepakbola tanah air sangatlah melukai orang banyak, mulai dari pemain, pelatih dan ofisial, pemilik klub, wasit, hingga masyarakat pecinta tanah air. Lihatlah para pemain yang sebenarnya memiliki potensi besar dalam sepakbola, mereka terpaksa gantung sepatu di usia optimal mereka untuk mencari pekerjaan lain agar dapat bertahan hidup. Begitu juga dengan pelatih dan ofisial klub serta wasit pertandingan, tanpa adanya pertandingan reguler yang resmi pekerjaan mereka pun tidak dapat dijalani sehingga mereka pun harus terpaksa kehilangan pekerjaan dan mencari alternatif lain. Pemilik klub mengalami kerugian besar-besaran akibat sepakbola tanah air yang "mati", terhentinya kompetisi reguler membuat mereka tidak mendapatkan pemasukkan sedikitpun namun harus tetap membayar gaji para pemain serta pelatih dan ofisial, sehingga kebanyakan pun terpaksa harus memutus kontrak dengan para pemain, pelatih, dan ofisial. Sementara masyarakat pecinta sepakbola dimana sepakbola sudah mendarah daging dalam mereka dipaksa menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan bisa menyaksikan pertandingan sepakbola seiring "matinya" sepakbola tanah air.
Lalu, ketika masyarakat Indonesia secara luas terdampak dari pembekuan PSSI, apakah langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah? Ketika orang bersusah payah mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup setelah pekerjaan mereka dirampas paksa, apa yang pemerintah lakukan? Sepakbola sudah menjadi kehidupan bagi masyarakat Indonesia selama puluhan tahun belakangan ini, sepakbola sudah menjadi kebanggan bagi masyarakat Indonesia. Namun, apa yang mereka telah banggakan, apa yang mereka telah perjuangkan sia-sia ketika kisruh antar badan pemerintah dengan badan sepakbola ini terjadi yang kemudian "mematikan" persepakbolaan tanah air. Sikap-sikap Kemenpora dan PSSI dalam mengatasi kasus demikian masihlah belum optimal dan belum mengutamakan kepentingan masyarakat. Ribuan bahkan jutaan masyarakat terdampak secara langsung dari pembekuan PSSI ini. Seluruh masyarakat Indonesia kini hanya dapat berharap bahwa Kemenpora dan PSSI dapat menghasilkan keputusan terbaik untuk menyelamatkan persepakbolaan di Indonesia.
Apa yang masyarakat harapkan terhadap persepakbolaan tanah air adalah sama yaitu segala hal yang terbaik agar sepakbola dapat kembali lagi ke masyarakat. Masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa, masyarakat hanya dapat terdiam sembari menunggu bagaimana Kemenpora dan PSSI membuat keputusan terhadap sepakbola tanah air. Masyarakat hanya dapat berdoa sambil berharap bahwa Kemenpora dan PSSI mampu menghasilkan suatu keputusan yang sama untuk menyelamatkan sepakbola tanah air. Maka, marilah bersatu untuk menyelamatkan persepakbolaan tanah air, mari kita bersama-sama mengembalikan sepakbola tanah air agar kembali berjaya seperti dahulu. Biarlah saat ini sepakbola kita mengalami kehancuran, agar ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita harus berjuang untuk mempertahankan sepakbola di masyarakat. Hal demikian juga tentunya menjadi pelajaran bagi pemerintah dan badan sepakbola Indonesia bahwa kisruh-kisruh yang telah terjadi hanya merusak sepakbola tanah air, maka harus ada persatuan diantara semua kalangan untuk menjaga sepakbola di tanah air tercinta.
No comments:
Post a Comment